Zidane, at a glance
Almy Tau | July 18, 2006 | 9:36 pmBerhubung pas lagi World Cup,, lagi kesengsem berat sama Zidane,, ini ada sedikit artikel ttg dia,, diambil dari postingan di milist forkom .
——————————————————–
![]()
ZIZOU
JIKA huruf Arab yang mengeja namanya di-Latin-kan
dengan lafal Inggris, ia adalah Zayn ad-Dien. Di
Indonesia ia akan dipanggil Zainuddin. Konon itu
berarti “ornamen iman”.
Orang tuanya datang dari Dusun Taguemoune, di
bukit-bukit Aljazair yang jauh. Seperti banyak orang
dari wilayah Afrika yang dilecut niat memperbaiki
nasib, Smayl Zidane, si ayah, pergi merantau ke Paris.
Tapi kemiskinan tetap menggilas, dan ia pindah ke
Marseille, di selatan, sebuah kota yang tak teramat
jauh dari negeri asal.
Pada pertengahan 1960-an itu, Smayl bekerja sebagai
petugas gudang, sering dalam giliran malam. Ia ingat
Zainuddin mudah bermimpi buruk bila si bapak tak
pulang. Sebab itu pada waktu senggangnya ia penuhkan
perhatian bagi anak yang lembut hati yang dipanggilnya
Yazid atau “Yaz” itu.
Ketika Zidane muda sudah jadi pemain bola termasyhur,
dan seluruh Prancis mengelu-elukannya sebagai
pahlawan, dan para pengagumnya memanggilnya “Zizou”,
bukan “Yaz”, ia tak melupakan apa yang diberikan
ayahnya. “Saya mendapatkan semangat dari dia,”
katanya. “Ayahlah yang mengajari kami bahwa seorang
imigran harus bekerja dua kali lipat kerasnya jika
dibandingkan dengan orang lain–dan tak boleh
menyerah.”
Daerah La Castellane, di bagian utara Kota Marseille,
tempat Zainuddin Zidane dibesarkan, tempat ia bermain
bola di lapangan Place de la Tartane, bukanlah
wilayah yang ramah. Orang menyebutnya sebagai quartier
difficile, perkampungan sulit. Di tepi jalan yang
berdebu itu, di deretan perumahan kotak-kotak itu,
hidup si muslim, si miskin, si minoritas, yang
akhir-akhir ini merisaukan Prancis: beban, ancaman,
atau bantuankah mereka?
Dalam hal itu “Zizou” mau tak mau memikul sebuah
pertanyaan–meskipun kita tak tahu sadarkah ia akan
hal itu.
Ketika Prancis keluar sebagai kampiun Piala Dunia
1998, sebuah perayaan spontan meluap di Paris: satu
setengah juta manusia berderet di Champs Elysees.
Sebuah potret besar Zidane, pencetak gol yang
menjadikan negerinya sang juara, diproyeksikan di Arc
de Triomphe. Ribuan orang berseru, tiba-tiba, “Zidane!
President!”
Zainuddin, keturunan minoritas yang disebut les beurs,
serta-merta jadi sebuah ikon bagi sebuah bangsa yang
sering disebut “paling rasialis” di Eropa.
Agaknya Piala Dunia sebuah simptom: kompetisi itu
adalah ekspresi nasionalisme dalam demamnya yang tak
berbahaya. Juga nasionalisme yang tak sama dengan
rasialisme. Eropa pernah melahirkan Naziisme, tapi ada
sesuatu yang sering diabaikan: nasionalisme punya
kemampuan untuk melupakan.
Prancis semenjak revolusi pada abad ke-18 merupakan
contohnya. Dari pengalaman itu pada abad ke-19 Ernest
Renan mengemukakan pentingnya “lupa” dalam membentuk
bangsa: sebuah “nasion” terjadi ketika ikatan
kedaerahan, rasial, dan keagamaan tak lagi
diingat-ingat. Telah tumbuh hasrat untuk berbareng (le
d’sir de le’tre ensemble) di antara anasir yang
berbeda-beda. Sebuah kebersamaan pun terbangun.
Zidane menerima dan diterima oleh kebersamaan
itu–yang bernama “Prancis”–ketika ada kehendak
“melupakan” ikatannya dengan sesuatu yang bukan
“Prancis”. Juga di lapangan hijau itu: “Prancis” hadir
bukan cuma pada warna kaus yang seragam, tapi juga
pada agresivitas Zidane yang melupakan diri bahwa ia
seorang pemain Real Madrid–seperti halnya lawannya
hari itu, Ronaldo dari Brasil.
Demikianlah identitas “Prancis” berkibar dari lupa dan
benturan. Kompetisi Piala Dunia memang metafora yang
bagus tentang antagonisme, di mana perbedaan yang
mutlak tak pernah ada. Sebuah pertandingan selalu
mengasumsikan semacam persamaan: tak ada pihak yang
100 persen ganjil bagi pihak lain. Yang terjadi adalah
ada yang menang, ada yang kalah.
Sebagaimana dalam kehidupan: ada antagonisme dalam
tiap kebersamaan, dan si menang naik, si kalah turun.
Kesetaraan yang penuh tak bisa tercapai; tiap angka
0-0 akan diselesaikan dengan tendangan penalti. Tapi
dorongan ke arah kesetaraan akhirnya tak dapat
dielakkan, dan argumen untuk mengekalkan perbedaan
akan terguncang. “Kami berasal dari sebuah keluarga
yang tak punya apa-apa,” kata Smayl Zidane menyaksikan
tempik-sorak bagi anaknya di seantero negeri. “Kini
kami dihormati orang Prancis dari segala jenis.”
Tapi justru karena itulah Zidane membawa sebuah
pertanyaan bagi Prancis: bisakah logika perbedaan
diguncang oleh logika kesetaraan? Bagaimana mungkin
“mereka”–yang muslim, yang lain–dianggap sederajat
dengan “kita”, mayoritas?
Tampak bahwa di sini yang ditekankan bukanlah lupa,
melainkan ingatan–dan wajah buruk nasionalisme pun
menyeringai.
Setelah kemenangan tim Prancis pada tahun 1998 itu,
Jean-Marie Le Pen, pemimpin Front National–yang
selalu mencurigai minoritas–akhirnya menerima Zidane
dengan catatan: sang bintang adalah “putra Aljazair
Prancis”. Itulah alasannya kenapa Zainuddin layak
diterima di antara “kita”: Zizou datang dari keluarga
“harki”, kata Arab untuk menyebut orang Aljazair yang
bertempur di pihak Prancis, sang penjajah, pada masa
perang kemerdekaan.
Zainuddin membantah itu: keluarganya bukan
pengkhianat. Tapi bisakah ia mendefinisikan diri,
ketika dunia privat seseorang diserbu kebencian
hitam-putih orang ramai? Oktober 2001, sebuah
pertandingan persahabatan dicoba antara tim Prancis
dan Aljazair di Stade de France. Pertandingan itu
simbolik: kedua negeri itu tak pernah bertemu di
lapangan bola sejak perang kemerdekaan Aljazair. Tapi
seperti diceritakan Andrew Hussey dalam The Observer,
menjelang hari itu Zidane diancam akan dibunuh. Poster
dipasang: “Zidane-Harki”. Akhirnya permainan tak
selesai. Beberapa anak muda keturunan Arab berseru
mengelu-elukan Usamah bin Ladin dan mengutuk Republik
Prancis.
Demikianlah lupa dan ingatan bisa dibongkar pasang
untuk diteriakkan, juga bagi si pemalu yang bersuara
lirih itu, Zinedine Zidane.
Goenawan Mohamad
(Catatan Pinggir Majalah TEMPO, 10 Juli 2006)






Saya tidak bisa bicara banyak tentang sepakbola, karena bukan ahlinya,
Aji | July 22, 2006 | 4:01 amSaya tidak bisa bicara banyak tentang sepakbola, karena bukan ahlinya, namun pada paparan Goenawan Mohammad itu saya menangkap bahwa nasionalisme akan mampu meruntuhkan rasisme, dus nasionalisme adalah bahaya baru terhadap kesetaraan, dan merupakan benih rasisme baru di horison yang lebih luas.
Contohnya ketika bangsa ini berupaya membangkitkan nasionalisme saat demo turun ke jalan menghujat Malaysia saat krisis blok ambalat menyeruak adalah tindakan picik atas nama nasionalisme.
Faham nasionalismelah yang memecah kerajaan Utsmaniah dan Abbassiyah menjadi kepingan kecil negara lemah yang mudah untuk dijajah.
Dan Zidane adalah satu hal yang tertangkap media, ketika rasisme mampu diredam atas nama aturan sepakbola. Usaha ‘let’s kick racism out of footbal’ ini memang patut diacungi jempol.
Walaupun tetap saja rasisme bukan hanya masalah ras, wana kulit dan sebagainya, tapi lebih kepada wujud eksistensi diri yang mencoba melanggar dan merendahkan hak orang lain.
PS. Salam kenal juga
Salam kenal aji. Tahun 1986, waktu itu saya belum berumur 10
Tau | July 23, 2006 | 5:01 pmSalam kenal aji.
Tahun 1986, waktu itu saya belum berumur 10 tahun.. saya masih ingat melihat final piala dunia di Mexico.. melihat banyak orang mengagumi Maradona. Mulailah saya berminat kepada bintang2 individual sepakbola.
Tahun 1990, saya menonton pertandingan perdana di mana Kamerun mengalahkan Argentina 1-0. Nigeria juga mulai menunjukkan skillnya tidak lama kemudian. Timbullah keinginan saya melihat tim2 underdog mengalahkan tim2 besar dalam sepakbola. Dan keinginan tersebut berpuncak pada tahun 1998, di mana Zidane dan tim Prancis menang piala dunia.
Sekarang? Walau mungkin keinginan melihat underdog menang tetap ada, tapi saya gak bisa menyangkal kalau sekarang saya lebih prefer tim yang terbaik yang menang dengan seadil2nya, tanpa hal2 lain yang mengganggu seperti rasisme, diving, kerusuhan dsb. Makanya waktu Zidane kena kartu merah, final Piala Dunia tiba2 berubah bagi saya, karena \’real world\’ udah masuk ke lapangan hijau. Kalau tak salah Zidane mengatakan bahwa si pemain Itali yang ditanduknya itu menghina ibunya. Maka tahun 2006 ini, menjadi tahun di mana saya mulai tertarik kepada background pemain2 sepakbola.
Walau memang menarik untuk menjadikan ras, nasionalisme sebagai bahan diskusi di piala dunia, realitanya mereka lebih banyak bermain bola di liga yang mungkin bisa mencapai puluhan pertandingan per tahun. Tidak cukup mengerti karakter Zidane hanya dari pertandingan2nya di Piala Dunia. Sayangnya, seperti di-suggest Goenawan Muhammad, manusia itu sering men-judge sesuatu berdasarkan memori yang paling melekat di otaknya — seperti juga yang ditunjukkan oleh evolusi pikiran saya dari Piala Dunia satu ke yang lainnya.
Allo..Bonjour monsiuer,I'm adza from Malaysia....U the best player,I like it.good
Adzariah | August 17, 2006 | 1:45 pmAllo..Bonjour monsiuer,I’m adza from Malaysia….U the best player,I like it.good luck for u.