<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/2.2.2" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: Zidane, at a glance</title>
	<link>http://www.almytauhid.com/2006/07/18/zidane-at-a-glance/</link>
	<description>Our life and thoughts</description>
	<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 22:33:00 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.2.2</generator>

	<item>
		<title>By: Adzariah</title>
		<link>http://www.almytauhid.com/2006/07/18/zidane-at-a-glance/#comment-12</link>
		<author>Adzariah</author>
		<pubDate>Thu, 17 Aug 2006 13:45:52 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.almytauhid.com/2006/07/18/zidane-at-a-glance/#comment-12</guid>
		<description>Allo..Bonjour monsiuer,I'm adza from Malaysia....U the best player,I like it.good luck for u.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Allo..Bonjour monsiuer,I&#8217;m adza from Malaysia&#8230;.U the best player,I like it.good luck for u.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Tau</title>
		<link>http://www.almytauhid.com/2006/07/18/zidane-at-a-glance/#comment-10</link>
		<author>Tau</author>
		<pubDate>Sun, 23 Jul 2006 17:01:17 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.almytauhid.com/2006/07/18/zidane-at-a-glance/#comment-10</guid>
		<description>Salam kenal aji.

Tahun 1986, waktu itu saya belum berumur 10 tahun.. saya masih ingat melihat final piala dunia di Mexico.. melihat banyak orang mengagumi Maradona. Mulailah saya berminat kepada bintang2 individual sepakbola.

Tahun 1990, saya menonton pertandingan perdana di mana Kamerun mengalahkan Argentina 1-0. Nigeria juga mulai menunjukkan skillnya tidak lama kemudian. Timbullah keinginan saya melihat tim2 underdog mengalahkan tim2 besar dalam sepakbola. Dan keinginan tersebut berpuncak pada tahun 1998, di mana Zidane dan tim Prancis menang piala dunia.

Sekarang? Walau mungkin keinginan melihat underdog menang  tetap ada, tapi saya gak bisa menyangkal kalau sekarang saya lebih prefer tim yang terbaik yang menang dengan seadil2nya, tanpa hal2 lain yang mengganggu seperti rasisme, diving, kerusuhan dsb. Makanya waktu Zidane kena kartu merah, final Piala Dunia tiba2 berubah bagi saya, karena \'real world\' udah masuk ke lapangan hijau. Kalau tak salah Zidane mengatakan bahwa si pemain Itali yang ditanduknya itu menghina ibunya. Maka tahun 2006 ini, menjadi tahun di mana saya mulai tertarik kepada background pemain2 sepakbola.

Walau memang menarik untuk menjadikan ras, nasionalisme sebagai bahan diskusi di piala dunia, realitanya mereka lebih banyak bermain bola di liga yang mungkin bisa mencapai puluhan pertandingan per tahun. Tidak cukup mengerti karakter Zidane hanya dari pertandingan2nya di Piala Dunia. Sayangnya, seperti di-suggest Goenawan Muhammad, manusia itu sering men-judge sesuatu berdasarkan memori yang paling melekat di otaknya -- seperti juga yang ditunjukkan oleh evolusi pikiran saya dari Piala Dunia satu ke yang lainnya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam kenal aji.</p>
<p>Tahun 1986, waktu itu saya belum berumur 10 tahun.. saya masih ingat melihat final piala dunia di Mexico.. melihat banyak orang mengagumi Maradona. Mulailah saya berminat kepada bintang2 individual sepakbola.</p>
<p>Tahun 1990, saya menonton pertandingan perdana di mana Kamerun mengalahkan Argentina 1-0. Nigeria juga mulai menunjukkan skillnya tidak lama kemudian. Timbullah keinginan saya melihat tim2 underdog mengalahkan tim2 besar dalam sepakbola. Dan keinginan tersebut berpuncak pada tahun 1998, di mana Zidane dan tim Prancis menang piala dunia.</p>
<p>Sekarang? Walau mungkin keinginan melihat underdog menang  tetap ada, tapi saya gak bisa menyangkal kalau sekarang saya lebih prefer tim yang terbaik yang menang dengan seadil2nya, tanpa hal2 lain yang mengganggu seperti rasisme, diving, kerusuhan dsb. Makanya waktu Zidane kena kartu merah, final Piala Dunia tiba2 berubah bagi saya, karena \&#8217;real world\&#8217; udah masuk ke lapangan hijau. Kalau tak salah Zidane mengatakan bahwa si pemain Itali yang ditanduknya itu menghina ibunya. Maka tahun 2006 ini, menjadi tahun di mana saya mulai tertarik kepada background pemain2 sepakbola.</p>
<p>Walau memang menarik untuk menjadikan ras, nasionalisme sebagai bahan diskusi di piala dunia, realitanya mereka lebih banyak bermain bola di liga yang mungkin bisa mencapai puluhan pertandingan per tahun. Tidak cukup mengerti karakter Zidane hanya dari pertandingan2nya di Piala Dunia. Sayangnya, seperti di-suggest Goenawan Muhammad, manusia itu sering men-judge sesuatu berdasarkan memori yang paling melekat di otaknya &#8212; seperti juga yang ditunjukkan oleh evolusi pikiran saya dari Piala Dunia satu ke yang lainnya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Aji</title>
		<link>http://www.almytauhid.com/2006/07/18/zidane-at-a-glance/#comment-7</link>
		<author>Aji</author>
		<pubDate>Sat, 22 Jul 2006 04:01:35 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.almytauhid.com/2006/07/18/zidane-at-a-glance/#comment-7</guid>
		<description>Saya tidak bisa bicara banyak tentang sepakbola, karena bukan ahlinya, namun pada paparan Goenawan Mohammad itu saya menangkap bahwa nasionalisme akan mampu meruntuhkan rasisme, dus nasionalisme adalah bahaya baru terhadap kesetaraan, dan merupakan benih rasisme baru di horison yang lebih luas.
Contohnya ketika bangsa ini berupaya membangkitkan nasionalisme saat demo turun ke jalan menghujat Malaysia saat krisis blok ambalat menyeruak adalah tindakan picik atas nama nasionalisme.
Faham nasionalismelah yang memecah kerajaan Utsmaniah dan Abbassiyah menjadi kepingan kecil negara lemah yang mudah untuk dijajah.
Dan Zidane adalah satu hal yang tertangkap media, ketika rasisme mampu diredam atas nama aturan sepakbola. Usaha 'let's kick racism out of footbal' ini memang patut diacungi jempol.
Walaupun tetap saja rasisme bukan hanya masalah ras, wana kulit dan sebagainya, tapi lebih kepada wujud eksistensi diri yang mencoba melanggar dan merendahkan hak orang lain.

PS. Salam kenal juga</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya tidak bisa bicara banyak tentang sepakbola, karena bukan ahlinya, namun pada paparan Goenawan Mohammad itu saya menangkap bahwa nasionalisme akan mampu meruntuhkan rasisme, dus nasionalisme adalah bahaya baru terhadap kesetaraan, dan merupakan benih rasisme baru di horison yang lebih luas.<br />
Contohnya ketika bangsa ini berupaya membangkitkan nasionalisme saat demo turun ke jalan menghujat Malaysia saat krisis blok ambalat menyeruak adalah tindakan picik atas nama nasionalisme.<br />
Faham nasionalismelah yang memecah kerajaan Utsmaniah dan Abbassiyah menjadi kepingan kecil negara lemah yang mudah untuk dijajah.<br />
Dan Zidane adalah satu hal yang tertangkap media, ketika rasisme mampu diredam atas nama aturan sepakbola. Usaha &#8216;let&#8217;s kick racism out of footbal&#8217; ini memang patut diacungi jempol.<br />
Walaupun tetap saja rasisme bukan hanya masalah ras, wana kulit dan sebagainya, tapi lebih kepada wujud eksistensi diri yang mencoba melanggar dan merendahkan hak orang lain.</p>
<p>PS. Salam kenal juga</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
