Barakah
Almy Tau | August 9, 2008 | 8:24 pmContoh pertama adalah sewaktu Siti Maryam sudah hampir melahirkan dengan susah payah, dan diilhamkan oleh Allah swt kepadanya untuk mengguncang pohon kurma agar kurmanya jatuh dan bisa dimakan. Kenapa Allah tidak menurunkan kurma ini di atas meja makan, siap hidang? Apa logikanya menyuruh seorang wanita hamil sembilan bulan mengguncang pohon kurma? Jawabannya adalah agar Siti Maryam berusaha serta bertawakkal kepada Allah sehingga kurmanya mengandung barakah.
Sama seperti Nabi Musa, apa logikanya pukul tongkat bisa membelah laut? Usaha yang memberi hasil yang barakah. Bayangkan kalau instead of Nabi Musa, seseorang yang sok teung disuruh pukul tongkat.. “wah mana ada gunanya ini, coba jelaskan dulu apa efeknya.. percumaaa”
Fast forward ke jaman sekarang.. kalau kita punya sebuah tujuan hidup, dan ada dua jalan menuju ke situ: jalan pintas tapi agak2 syubhat, dan jalan yang bersusah payah tapi 100% halal.. mana yang kita ambil? Di atas kertas sih gampang, kita tahu jawabannya – ambil yang halal, dan kita yakin apapun hasilnya Insya Allah barakah. Tapi bagaimana kalau kita mengalami langsung? Segampang itukah? Apalagi syaitan akan usil bisik2 untuk mengambil jalan pintas.. Tujuan yang tercapai dengan cara yang tidak baik, sekalipun zahirnya sukses, tidak akan tinggi nilainya di hadapan Allah. Sebaliknya, biarpun tujuan tidak tercapai, tapi kalau usahanya halal, jalan terus tanpa putus asa.. Insya Allah akan terlihat balasannya.. kalau tidak di dunia ya di akhirat.
Konsep ini jarang aku temui di Barat, baik fiksi maupun non-fiksi. Tapi orang2 Amerika mungkin mengalami ini tanpa mereka ketahui. Sebuah keluarga di mana sang ayah bersusah payah commuting 2 jam one way ke tempat kerjanya tapi betul2 mensyukuri waktu yang dia habiskan dengan anak istri, bisa lebih bahagia hidupnya dibanding seorang ayah yang hanya 5 menit jalan ke kantor tetapi gak mau punya anak, dan menghabiskan terlalu banyak waktu luangnya di rumah untuk hobi ngutak ngatik mobil. Siapakah yang lebih bahagia? IMO it’s not what you have that makes you successful, it’s what you do with what you have.
Aku pernah mengenal sebuah keluarga Amerika blue collar, yang suami, istri, dan anak2nya sehat2, bermuka ceria.. padahal aku tahu gajinya itu pas-pasan. On the other hand, aku mengenal seorang saudara Muslim bergaji $100K yang mukanya murung, topik2 pembicaraannya negative.. Alhamdulillah sekarang udah lebih baik sih.. and what a difference! Senyumnya lepas, tidak terpaksa.
Tau






Recent Comments